entahlah
sejak pertama kulihat ia
ku berharap tak ada akhir
bila bisa kulawan takdir
tak berkedipku laksana sihir
hei,
pesonamu memikat erat hatiku
hingga kurasakan kini seolah ku tak punya lagi waktu
kecuali banyanganmu
menyisakan sesal yang begitu dingin membeku
semalam ku bermimpi
seperti malam-malam sebelum hari ini
ku berjalan kembali
menyusuri jejak-jejak langkahku yang sepi
begitu jelas terlihat
tak terhapuskan meski hujan mengguyur begitu lebat
kususuri ia, meski sangat takut ku tersesat
akhirnya ku pun sampai pada setitik cahaya
ingin ku raih ia karena terlihat ada yang kuharap di sinarnya
ku tangkap ia,
tak pernah bisa
hingga napas ini begitu sesak di dada
lalu terdengar katanya,
“bagimu, aku hanyalah cahaya!”
tersadar ku dari keadaan yang ada
dan ku katakan padanya,
“tidak, tapi aku ingin memegangmu, meraihmu, dan ku bawa pulang”
tak terasa mentari telah datang
aku pun terbangun dari mimpi yang terasa begitu panjang
tergeletak lelah di atas ranjang
sinar matahari menusuk masuk lewat celah-celah jendela berlubang
ada niat ku untuk meraihnya, walau hanya sekedar memegang
dan akupun teringat katanya dalam mimpiku,
“bagimu, aku hanyalah cahaya!”
oh, tidak!
sedari dulu, aku ingin selalu memegangmu
memelukmu
dan ingin kudekap erat-erat dalam pelukku
namun, hari ini ketika aku telah mampu untuk itu
kau katakan bahwa kau hanyalah cahaya bagiku
tak bisa ku pegang,
kupeluk,
kudekap.
baik….
namun ku masih bisa menyentuhmu
karena banyangmu…..
tak kan pudar di hatiku
11.18.09.19.14.01
